jaded side

Kardus-kardus yang bertumpuk memenuhi ruangan. Beberapa sudah dibuka dan disusun pada tempatnya. Dua sejoli yang sedari siang sibuk membenahi rumah yang akan mereka tinggali kedepan, masing-masing mengistirahatkan diri karena lelah. Christian fokus pada pertandingan olahraga yang ditayangkan di televisi sedangkan Selena membongkar kardus ringan berisikan berkas-berkas yang hendak ia masukkan ke dalam map.

“Christian, surat apa ini?”

Selena mengacungkan beberapa amplop surat yang ia temukan terselip diantara berkas. Melirik sebentar dari layar, Christian menjawab singkat, “Oh, itu surat yang datang untuk pemilik rumah sebelumnya. Kau ingat, kan? Surat dengan aksara jepang.”

Penasaran, wanita itu buka satu persatu surat tersebut. Memperhatikan dengan seksama aksara yang tertulis disana.

“Christian, mengapa surat-surat ini bisa berada disini?”

“Mungkin terselip.”

Pandangan Selena tidak lepas dari surat tersebut. Semakin lama ia perhatikan aksara tersebut, raut wajahnya semakin aneh. Tujuh surat beraksara jepang ia letakkan diatas meja rias sambil sesekali ia lirik Christian dari pantulan cermin.

Semakin sering ia mencuri lirik pada Christian, semakin deras keringat dingin yang muncul. Rautnya berubah menjadi cemas. Sekali lagi ia perhatikan aksara-aksara asing tersebut.

Kemudian ia terkekeh kecil.

Ia mengenal surat-surat ini. Ia bisa membacanya.

Cara ini penah mereka lakukan beberapa tahun silam.

A code.

Selena menyusun ketujuh surat itu dan menyejajarkan barisan ketiga setiap surat. Lalu barisan kelima dan barisan terakhir. Menggabungkan menjadi sebuah pesan.

Jantungnya berdegup kencang. Aksara jepang yang pernah ia pelajari tidak pernah terpikir olehnya akan menjadi sebuah pesan rahasia. Kembali ia melirik pada Christian, lalu beralih pada dirinya sendiri di pantulan cermin.

Manik birunya begitu cantik. Manik biru ini juga yang membuatnya marah.

Ia akhirnya ingat.

Potongan yang hilang telah kembali.

jaded log

Pernikahan yang tidak mewah, namun Selena nampak begitu cantik dengan balutan gaun putih selutut yang menampilkan lekuk tubuhnya. Rambutnya yang biasa digerai kini terkuncir rapih dengan sematan hairpin yang semakin membuatnya lebih manis. Wajahnya dilapisi oleh riasan tipis karena wanita itu akan mengomel sejak awal jika tahu ia akan didandani seperti badut. Terakhir, buket bunga putih ungu yang ia genggam sepanjang jalan menuju altar, menghampiri Jimin yang sudah menunggu.

Keduanya tersenyum. Kali ini dengan tulus.

Ah, Selena tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengalami momen ini dalam hidupnya. Menikah terasa seperti mengikat benang merah.

Dua burung muda itu berdiri berhadapan lalu prosesi pernikahan dimulai dengan pengucapan janji dan mengikat melalui ciuman. Tepuk tangan tidak riuh terdengar dari lima orang tamu, Julian, Yunevil, Naya, Harry dan Jia. Masing-masing saling memberi ucapan selamat kemudian menikmati santapan yang tersedia.

Harry mendorong kursi roda Jia menuju Selena. Semenjak kejadian itu keduanya menjalin hubungan khusus dan bahkan tidak terpisahkan. Menurut kabar dari Jimin, mereka berniat melakukan pernikahan juga tahun depan. Hanya saja Selena tidak tahu ia akan hadir atau tidak. Dari kejauhan, senyum Jia mengembang seakan ikut berbahagia pada hari bahagianya.

“Selena Kloss, aku ucapan selamat atas pernikahanmu,” kata wanita yang menjalin sedikit hubungan batin dengannya semasa mereka di pulau. Jia menyodorkan sebuah kado kecil pada Selena. “Aku harap benda ini membawa keberuntungan untukmu,” lanjutnya.

Kado tersebut Selena buka dan menunjukkan sebuah gelang dengan ornament kuno. Terlihat seperti akan memberi kesialan daripada keberuntungan, pikir Selena. Ia lirik lagi Jia yang sepertinya menunggu respon positif darinya. Aku tidak akan terkejut jika dia benar-benar penyihir, batinnya lagi.

Memasang senyum palsu, Selena berkata, “Terima kasih. Bagaimana jika kau membantuku memasangnya?” tawar Selena karena ia merasa berutang budi pada Jia. Jika bukan karena wanita ini kemungkinan ia sudah terbang ke surga—neraka—jika mengingat perilakunya semasa hidup.

Jemari ringkih Jia meraih gelang dari dalam kotak dan memasangkan pada lengan kurus Selena. Entah ada apa, begitu kulit mereka saling bersentuhan, Selena merasa ada sengatan dalam dirinya dan langsung membuatnya mencengkeram tangan Jia cepat. Dan wanita itu, sepertinya juga merasakan hal yang sama.

Selena segera melepas cengkeramannya. “Ah, maaf… Aku hanya sedikit terkejut—”

“Selena Kloss…”

Jia memanggilnya, namun matanya tidak fokus padanya. Pengantin wanita itu mengeryit. Begitu pula Harry yang menyaksikan interaksi mereka. “Jia?” panggil lelaki itu namun tidak mendapat respon. Jia terus menatap, tanpa berkedip atau bersuara. Seperti sedang dirasuki.

“Selena Kloss…” Kali ini Jia memangggilnya dengan berbisik. Seperti diperintah, Selena membungkukkan tubuhnya mendekat.

Tepat di telinganya, Jia membisik,

“Sang Hyena akan bangkit. Hyena yang akan menghancurkanmu…”

Kedua matanya terbelalak.

drifted away

“Karin!”

Wanita yang tengah menyisip air bersoda itu sedikit tersentak ketika namanya diteriaki. Tanpa menghabiskan minuman yang ia dapat secara cuma-cuma dari meja khusus awak media, Karin, menghampiri sang pemanggil.

“Kau harus tetap disampingku atau kita akan ketinggalan momennya!” tegur lelaki berperawakan gembul dengan kameran di tangannya, Matthew, yang juga seniornya di tempat kerja.

Karin mengangguk. “Maafkan aku, Matt,” sesal Karin lalu meraih microphone dari tangan Matthew. Ia merapihkan sedikit rambut dan bajunya. Karin melirik awak media lain yang nampak santai menunggu sesi interview sedangkan dirinya gugup setengah mati. Wajar saja, ini adalah pengalaman pertamanya meliput kompetisi balap dan seharusnya bukan ia yang berada disini melainkan Talia jika saja wanita itu tidak menghabiskan malam jumatnya dengan berpesta. Ia bahkan bukan jurnalis!

Deru mesin mobil berserta sorakan penonton terdengar jelas karena sisi awak media yang memang disediakan berdekatan dengan pinggir sirkuit. Tersisa satu putaran U-turn terakhir dan kompetisi akan berakhir dengan penilaian subjektif juri.

“Matthew, aku gugup!” ucap Karin ketika menyadari akhir dari kompetisi akan datang dan waktunya awak media untuk melakukan sesi interview. Karin tidak bohong ketika ia bilang gugup, ia bahkan tidak tahu harus bertanya apa. Dirinya, dua puluh lima tahun, seorang ilustrator di Good Live, ditarik oleh Matthew ketika sedang berjalan ke ruangannya untuk menggantikan jurnalis yang tidak bisa bertugas akibat mabuk berat dan disuruh untuk melakukan interview tanpa pengalaman interview sama sekali! Ingin tahu apa yang lebih buruk? Ia sama sekali tidak tahu tentang kompetisi Drift. Satu-satunya yang ia tahu adalah Tokyo Drift, soundtrack film yang pernah membuatnya terlibat dengan pelanggaran lalu lintas.

Tanpa dibantu oleh Matthew, kompetisi berakhir dan para pembalap keluar dari mobil mereka. Awak media langsung berebut menyodorkan microphone dan menyorot para pembalap, berharap mereka mengatakan sesuatu yang bisa menjadi headline.

Karin, yang terjebak dalam kerumunan awak media, turut menyodorkan microphone tanpa bisa mengajukan satu pertanyaan pun karena ternyata banyak sekali orang-orang egois disana. Raut Matthew nampak tidak begitu bagus karena tidak mendapat apa yang ia inginkan.

“Karin, mulailah ajukan pertanyaan. Buat mereka melihat ke kamera kita.”

Oh, fuck you Matt.

Belum sempat Karin mendebat titah Matthew, awak media lainnya sudah berlari mengejar pembalap lain. Begitu pula Matthew yang berlari dengan membawa kamera beratnya. Dengan kakinya yang belum lama keseleo, Karin juga ikut berlari namun kali ini ia hanya mendapat posisi di pinggir sang pembalap karena gerak mereka yang terlalu lambat.

“Julian, apakah Anda optimis akan menjadi pemenang One Formula Drift tahun ini juga?”

“Tentu saja.”

“Julian, strategi apa yang akan dilakukan pada kompetisi tahun ini?”

“Banyak strategi, tapi tidak bisa kukatakan disini.”

“Bagaimana tanggapan Anda dengan somasi yang dilakukan oleh Alex Turner?”

“Apakah ada gagasan baru dari ArcDouble sebagai sponsor Anda?”

Bermacam pertanyaan diajukan yang tidak bisa diimbangi oleh Karin. Bukan karena topik pertanyaan yang sama sekali ia tidak ketahui, namun jawaban dari sang pembalap yang begitu singkat sehingga menampakkan bahwa dia sama sekali tidak tertarik dan hanya menjadikan interview sebagai formalitas.

Akan tetapi mengapa orang-orang ini begitu bersemangat untuk menginterview pembalap ini?

“… Aku tidak tahu.”

“Siapa sebenarnya orang ini?”

Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Karin tanpa sadar. Begitu tatapan semua orang beralih padanya, sang pembalap dan awak media lain, barulah ia mengutuk mulutnya yang tidak bisa dikontrol.

“Dia Julian Juventus, pembalap drift nomor satu di dunia. Apa yang sebenarnya kau lakukan disini, Kid?” tegur salah satu awak media dengan ketus, menciutkan hati Karin yang lemah.

Sang pembalap, Julian, menonjolkan sedikit senyum ketika melihat wajah Karin yang nampak bersalah.

“Well, apa Anda memiliki pertanyaan lain untukku, Good Live Sport?” ucap Julian seraya membaca tulisan dari microphone yang digenggam oleh Karin. Karin tidak semerta membalas pertanyaan Julian akibat syok sebelum akhirnya Matthew menendak betisnya pelan seraya menyorotkan fokus kamera pada Julian yang menunggu.

Menarik nafas panjang, Karin akan mengutuk semua pertanyaan yang keluar dari mulutnya.

“Siapa Anda sebenarnya sehingga bisa menjadi pembalap drift nomor satu di dunia? Dan mengapa Anda memilih drift dari olahraga lain?”

“Aku akan menjawab dari yang terakhir. Kenapa drift?” Raut wajah Julian nampak puas dengan sebuah senyum manis yang jarang ia tampilkan. “Drift memberikanku emosi. Adrenalin ketika aku harus menyeimbangkan kecepatan mesin dan kecepatan roda demi menghasilkan putaran yang sempurna, jejak roda yang terukir di lintasan sebagai jiwa artistik dan asap yang muncul sebagai selebrasi membuatku merasa bebas,” tuturnya.

Terus menatap pada Karin, Julian masih berkata, “Dan siapa aku? Aku adalah orang yang mendedikasikan hidupku dalam drift sehingga itu membawaku menjadi orang nomor satu. Apa itu sudah menjawab semua pertanyaanmu, Good Live Sport?”

Hari itu, berbagai headline muncul dengan topik utama “Julian Juventus dan Drift”.

jen

this isnt about someone fell into novel world. not about stupid princess with toxic family die in vain. this is about jennie, from a wealthy family with high rank, decided to run from home to avoid her complicated family tree. those year she spend traveling across nation, she became stronger.

she is no longer could be blown away.

she is a leader.

mask

hope everyone doing great.

hope these hard times be gone soon.

hope the day when people taking off the mask will come.

hope the world will smile again.

God, we’re pray all day long. hope you hear us. hope you consider we’re just a weak creature.

journalism

pros

  • knowledge
  • got lot of stuff from events
  • meet new people, big people
  • experience
  • skill
  • passion
  • learn new stuff, system and something
  • money
  • up to date
  • free pass at every events
  • flexible

cons

  • tiring
  • using lot of think
  • if you’re not passion enough, you’ll be unble to handle
  • kinda boring
  • confused something
  • always have to be creative (for me this is cons lol)

this is just pure from what i feel and thoughts. dont mind it. i love journalism and being a journalist too.

(im a journalist student too ssttt….)

fair

yesterday i got this one wise quote:

fairness above human rights

one of my friend told me that he is a son of the 2nd mother, which is his father has 2 wife. then i asked him, “what about you? are planning to do the same?” and he agreed. kinda shock actually. then i said, “why? dont you think its not fair to the 2nd wife?” he answered, “no, my father is really fair to both. i dont see nothing wrong with him all this time.”

yesterday, i met someone really cool. she talks about woman, fairness and human rights. she said that in marriage life, the 2nd wife will never get fairness from anything. the married was not approved by gouverment. the husband will be biased. even for the 1st wife, its not fair enough.

“fairness above human rights.”

why always women treated unfairly?

why always women disrepectfully?

to all women who read this, please think wise before men. think twice about what and why you need that guy? do you really desever that guy? it was love or lust?

to all women, you’re strong.

controller

one month?

isnt long enough to makes my tears fell down.

isnt long enough to find the other me.

you said i am heartless? no, honey, im not heartless, im controlled.

fully controlled.

parting was never easy to anybody, so does meeting. we’re forced to met each other, forced too know everything. i said i used to this, but you’re not. i used to the part of we’re saying hello with smile, goodbye with tears. one month isnt worth for my tears. one month is worth for the saddest part of myself.

i said, i used to this.

because i am the controller.

KKM Kelompok 9 – Sungai Dungun /2020/

where are we?

places we’re lived in, isnt it feels lie to you?

kind words, isnt it feels strange?

why do we have to live in such place? why can let somebody fly freely, like birds on the sky and leaving these little chicks ready to get killed anytime soon? why wasting time living when you can choose not to be one?

coincidence, not really.

 

Design a site like this with WordPress.com
Get started